Monday, May 21, 2018

#Ramadhan04


Regards to our previous topic on the need to understand the Quran, this entry will be explaining further on this matter. Masalah umat islam sekarang is kita xde neraca islam yang solid. The world is literally falling apart because of that. Masing-masing ada kefahaman islam yang berbeza-beza and automatik melahirkan neraca yang berbeza. It’s time for us to synchronize our understanding towards the Quran so that all of us can be on the same page.

                The first key to understand the Quran is by merasakan setiap ayat Al-Quran adalah untuk kita. I can still remember those days back in my boarding school, when I was in Form Four if I am not mistaken. The school made it compulsory for all the students to own a Quran with Malay translation and so I bought one for myself. Besar juga hikmah wahyu pertama yang diturunkan telah menyuruh Rasulullah “Iqra’/Bacalah”. When we start reading, we will start to see things differently. Our knowledge will expand. So, I started reading. For the first time in my life I started to read the meaning of the ayats in the Al-Quran and it was mind-blowing. At that moment, I feel that all of those ayats are meant for me as most of the times it relates to my situation at the moment. Mungkin jugak sebab excited with my first discovery on the meaning of the Quran.

                How I miss that feelings now.. Bila makin lama and dah terbiasa dengan makna Al-Quran, kita tak sedar yang Al-Quran dah semakin xde makna dalam hidup kita. Baca bila sempat, tadabbur pun dah x se’deep’ dulu, praktikal ayat pun x meningkat. Sampai akhirnya kita lali dengan keadaan tu. Kita dah kurang memaknai Al-Quran and kita dah x rasa yang ayat2 tu are meant for us. Specifically meant for us. Macam surat cinta dari Allah untuk kita.

“Sungguh, Al-Quran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebaikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar”(17.Al-Isra’:9)

Selagi kita bernyawa, QURAN akan sentiasa menjadi petunjuk supaya kita kembali ke jalan yang lurus. Walaupun kita dah tersasar banyak kali, acap kali jugak terjatuh dalam arus jahiliyyah, Quran is still there. Waiting for us to reach out for it and find guidance. Allah turunkan Al Quran sebagai kitab terakhir yang menjadi pelengkap kepada kitab-kitab sebelumnya. Dan Al-Quran jugak telah diangkat martabatnya dan dijanjikan pemeliharaannya oleh Allah sampai akhir zaman. Which proves that this revelation is not only for Rasulullah and his companions, but it is also for the people who exists after them. It is also for us, so we must start reading it.

                As I mentioned in my previous post, reciting the Quran will cleanse our hearts and will make us a better person. Here are some tips on how we can start interacting with the Quran:

1) Mengikut kemampuan masing-masing, tetapkan target bacaan harian kita. Paling kurang beberapa ayat/hari or boleh jugak target satu juzu’ satu hari. It really depends on you. So dari target tu, tilawahkan(baca Arab) and jugak baca makna dalam Bahasa yang anda prefer(Malay/English).
      2)  Seterusnya, mulakan mentadabbur even satu ayat sehari. Tadabbur ni kita cuba extract perasaan kita bila kita baca ayat tu, and maybe even relate to what we are facing at the moment. It’s basically any interaction made with the ayat. Boleh cari dalam Youtube video kupasan Dr MAZA mengenai tadabbur. In shaa Allah akan lebih jelas.
      3)    Beramal dulu point 1 dan 2. Hehe.

      That’s it for now. Let’s practice this first ok! In shaa Allah to be continued in the next post. Until we meet again. 

 -αβ-

-Untuk tsabat hati dan jasad, kita perlu kerahkan semua keringat-

Saturday, May 19, 2018

Menjejak Obsesi yang Kian Pudar



                “Sejauh mana kita dah all out untuk survive dalam jalan ni, ke selama ni kita bernasib baik je? Sebab tu kita still ada sekarang.” Kata Kak A dalam muqadimmahnya. Wow, that’s a deep statement.

                Tahun demi tahun Allah masih memilih kita, tapi adakah perasaan dan sumbangan kita terhadap jalan dakwah ini juga semakin bertambah. It’s amazing how para sahabat without fail memberikan momentum dan semangat jihad yang sama dalam setiap peperangan. Semua pun berebut-rebut nak memberikan yang terbaik demi perjuangan Islam. Xde sesaat pun yang diorg rasa lemau or lali dengan perjuangan yang x Nampak penghujungnya, bahkan mereka lebih mengganas ibarat seekor singa yang sedang lapar.  Sesungguhnya iman merekalah yang menyahut setiap Rasulullah, bukan sekadar jasad.
 
“Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu itu), mereka berkata, ”Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka.” 
(33.Al-Ahzab:22)

                Betapa Allah menyingkap kisah-kisah yang lebih membuktikan kehebatan para sahabat Rasulullah SAW terutamanya melalui kisah perang Ahzab. Sebuah peristiwa yang menguji setiap sisi keimanan mereka kepada Allah. Di saat mereka dikepung dari hadapan, belakang, kanan dan kiri oleh pihak musuh, hanya langit tempat mereka meraih secebis sinar harapan. Hanya Allah jualah yang mampu mengeluarkan  mereka dari situasi yang menyesakkan dada hingga ke tengkorokan.

                Ternyata Tuhan mereka ingin mendidik mereka supaya mempunyai jiwa yang besar hingga mampu melahirkan satu OBSESI yang tiada tolok bandingnya. Dan itulah rahsia terbesar para sahabat. Mereka memiliki obsesi yang tinggi terhadap Allah sehingga yang lainnya kelihatan kecil di mata mereka. Di saat Allah dan Rasul menjanjikan kemenangan, merekalah orang yang pertama-tama meyakini perkara itu walaupun kelihatan mustahil untuk mereka memiliki kemenangan itu.

                Mungkin kurangnya kita bukan sebab Rasulullah xde zaman kita, or bukan sebab Al Quran x sampai kepada kita, dan sudah pastinya bukan sebab generation gap. Tapi sebab kita xde obsesi. Paling-paling pun kita ada kesukaan sementara, tapi tu pun disalurkan kepada dunia semata2. Dan yang paling menyedihkan kesukaan jahiliyyah kita hanya menguntungkan geng-geng jahiliyyah. Kita kerahkan tenaga, masa, harta, jiwa kita untuk kesukaan2 kita. Mungkin dah sampai masa untuk kita channelkan kesukaan tu menjadi obsesi yang benar. Bukan lagi kesukaan2 yang bersifat sementara ibarat kita meminati drama dan lagu yang akan bersilih ganti.

                Kemenangan islam masih jauh dan Ustaziatul Alam tu bayang-bayang pun x nampak lagi, sebab tu lah penting untuk kita develop obsesi terhadap Allah, dakwah dan islam ni. Supaya kita boleh sustain and maintain di sepanjang perjuangan ni. Knowing the fact yang Rasulullah sendiri pun dah wafat waktu Islam menguasai dua pertiga dunia, which means he did not get to see the results of all his hard work, but he did it anyway. He gave the best out of himself for the ummah. All of him. Sama la macam kita, there’s no guarantee that we can see that victorious moment for islam, we might even be dead by then. But the obsession will push the best out of ourselves. The most important thing is for us to mould the next generation in having the same obsession for Islam. It takes a lot of hard work but it’s possible. 


 -αβ-

-Untuk tsabat hati dan jasad, kita perlu kerahkan semua keringat-


#Ramadhan03



Rahsianya adalah pada selembar risalah yang kita gelar Al Quran.

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Quran ataukah hati mereka telah terkunci?” (47. Muhammad:24)
It’s a simple equation but it holds the key to finding our way back to Allah. Nak masuk syurga, kita kena faham Al-Quran, maka hukumnya wajib belajar and faham Quran. Disandarkan pada situasi bila kita nak solat, kita kena ada wudhu’ baru sah solat, so jadinya hukum wudhu’ tu wajib. If Al Quran is the manual, then we need to start treating it like one.

                Di saat hati semakin mengeras akibat dipenuhi jahiliyyah dan disumbat-sumbat dengan penyakit wahn(cintakan dunia dan takut mati), satu-satunya cara untuk melembutkan dan membersihkannya hanya dengan ayat-ayat suci Allah. Itulah penawar yang tidak dapat diragui lagi. Ayat-ayat ini harus ditilawahkan, ditadabbur, dipelajari secara mendalam dan yang paling penting dipraktikkan oleh golongan yang membacanya. Barulah “magisnya” akan meninggalkan kesan pada lubuk yang paling dalam di sanubari seorang manusia.

                Al Quran akan menjadi torchlight yang menerangi jalan kita pada masa hadapan. Ia akan menyuluhkan yang mana satu kebaikan dan yang mana satu kejahatan mengikut definisi Allah. Manusia sering merasakan, mengapa perlu terikat dengan definisi Allah, bukankah kami diberi akal supaya boleh bebas berfikir? Ya, anda benar. Tapi hadirnya akal hanya untuk menyokong wahyu, bukan memberi definisi2 baru. Andailah takaran baik atau buruk terletak di tangan manusia, maka definisi2 itu mungkin saja mencecah jumlah penduduk bumi pada ketika ini. Nescaya makin rosaklah bumi ini akibat tangan-tangan manusia. Itulah hikmah terbesar Allah menggariskan manual kehidupan manusia in advance supaya lebih lancar perjalanannya untuk menjadi abid dan khalifah. Tapi in the end, akan sentiasa ada dua jalan, jalan kekafiran atau jalan ketaqwaan, and manusia bebas memilih jalan mana yang ingin dia tempuhi.


                Sempena Ramadhan yang paling dikenali sebagai bulan Al-Quran, dan sempena mensyukuri nikmat kita masih hidup sebagai seorang Muslim, jom kita gunakan kesempatan ini untuk betul2 belajar dan mendalami Al-Quran seperti mana yang sepatutnya. Listen to video lectures, refer to ustaz/ustazah nearby, refer your friends yang geng2 usrah or budak sekolah agama tu, use all the available mediums to start learning. It’s never too late if we start now. In shaa Allah in the next few entries we will see how to interact with the Quran. 😊  Wallahua’lam. As much as this is a reminder for me, I hope it pushes us all to perform and present the best amal to Allah. 


 -αβ-

-Untuk tsabat hati dan jasad, kita perlu kerahkan semua keringat-

Friday, May 18, 2018

#Ramadhan02



Until this very day, without fail Allah has given us the opportunity to breathe the Ramadhan air and capture its spirit. Alhamdulillah. Salah satu nikmat yang tak terhitung nilainya. Kalau kita nak kira mengikut tahun, as for me, tahun ni dah tahun yang ke-23 dah diizinkan untuk masih hidup dalam bulan Ramadhan. Walaupun almost hari-hari kita dengar kenalan dan sanak-saudara yang meninggal dunia, tapi Allah masih memanjangkan usia kita dan keep on hadiahkan kita tiket untuk hadir ke bulan Ramadhan saban tahun. Well that is something.

                If and only if, kita nilai balik Ramadhan2 yang lalu, rasa sangat malu nak mengaku yang prestasi kita dah meningkat and kita dah jadi semakin baik after each Ramadhan ends. A sad truth and a hurtful fact. Most of the time, kita akan kembali kepada diri kita yang asal as soon as Hari Raya starts. Sedangkan Allah dah hadirkan Ramadhan sebagai Madrasah Tarbiyyah yang terbaik untuk hamba-hambaNya dalam mereka nak memperbaiki diri menjadi lebih baik. Be it spiritually, intellectually, physically or be it anything. Just name it. Ramadhan is the best time and the best environment to practically achieve all aspects in life that we would love to improve.
               
Quoting from Imam al-Ghazali in his kitab Ihya’ Ulumuddin, he said: “Puasa mempunyai tiga tingkatan. Tingkat terendah iaitu puasa umum. Ia hanya menekankan aspek supaya menjauhkan diri daripada perbuatan-perbuatan zahir yang boleh membatalkan puasa seperti makan dan minum. Tingkat kedua iaitu puasa khusus. Mereka yang berada pada tingkatan ini, tidak hanya meninggalkan hal-hal yang boleh membatalkan puasa, bahkan mereka juga menjauhkan diri daripada perkataan, pendengaran, penglihatan serta tindak tanduk yang boleh mencacatkan pahala puasa. Manakala tingkat tertinggi pula ialah puasa untuk golongan khusus dari orang khusus. Puasa ini dikenali sebagai puasa hati. Ini kerana, mereka yang berada pada tahap ini banyak berzikir kepada Allah SWT. Mereka juga mengawal hati dari dicerobohi cita-cita dan kehendak duniawi yang memperdayakan.”

                Walaupun kita dengar every year waktu ceramah pasal puasa, kata2 Imam Ghazali ni sekadar ilmu je dalam kepala kita. And it stays that way for Allah knows how long. Tak terdetik pun dalam hati kita untuk tinggalkan tahapan puasa umum tu and work hard untuk capai tahapan seterusnya. Maybe its about time for us to refer our manual, Al Quran and start digging on how to make our moves to the next level. And most importantly, macam mana nak capai taqwa tu sendiri.

“Kitab (Al-Quran) ini tiada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (2.Al Baqarah:2)

Allah sebut benda ni awal-awal dalam Quran. Dalam ayat yang kita semua familiar pun. Just to tell us that Al Quran is the best guidance for those who want to reach the level of taqwa. Period. Kita dah xde alas an lagi dah nak bagi.

Bumi dah tua and kita pun dah semakin tua. So mungkin dah sampai masa untuk kita bersungguh-sungguh dengan Ramadhan kali ni and try all means untuk capai taqwa tu. A gentle reminder to us all that we might not get to see Ramadhan again next year. We’re not even promised to be able to complete it this year. Mati tu oleh jemput kita bila-bila. So jom kita guna masa yang kita still ada sekarang, selagi roh masih dikandung jasad and be a better version of us.

“Ya Allah, kau telah sampaikan kami dalam bulan Ramadhan ini. Maka kau bantulah kami untuk beramal dengan sebaik-baik amal dan kau terimalah amal-amal kami. Sesungguhnya Kau Maha Penyayang lagi Maha Mengasihani.”

 -αβ-

-Untuk tsabat hati dan jasad, kita perlu kerahkan semua keringat-

Thursday, May 17, 2018

#Ramadhan01


In shaa Allah sempena Ramadhan kali ni, Allah gerakkan hati untuk mulakan misi satu entri satu hari sepanjang Ramadhan ni. Moga Allah berikan kekuatan dan ilham untuk menulis and above all, moga Allah redha. 


Tujuan Allah wujudkan Ramadhan:

Allah taala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

 (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah ia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika ia tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 183-184).

Besarlah target utama yang Allah harap manusia jadi melalui Ramadhan ini. Mudah-mudahan kita menjadi orang bertaqwa seperti orang-orang terdahulu. First of all, jom kita sama-sama tengok apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan taqwa tu sendiri. Bab-bab definisi taqwa ni memang akan sangat teringat dialog antara Saidina Umar Al Khattab dan Ubai bin Ka’ab, dua nama yang x asing lagi dalam sirah para sahabat. Almaklumlah, sahabat punya versi borak borak tarbawi ni memang something sikit. Deep dia lain macam. So here goes nothing.

Pada suatu hari, Umar al Khattab r.a bertanya kepada Ubai bin Ka’ab r.a mengenai makna taqwa yang sebenarnya.

“Pernah tak kau melalui satu jalan yang berduri?” tanya Ubai kembali kepada sahabatnya.
“Ya, pernah” jawab Umar.
“Apa yang akan kau lakukan untuk melalui jalan itu?” tanya Ubai lagi.
“Aku akan berjalan dengan berwaspada dan berhati-hati.” Jawab Umar.
“Maka seperti itulah taqwa.” Kata Ubai sebagai konklusi kepada pertanyaan Umar.

Banyak lagi hadis2 yang menyimpulkan bahawa taqwa ini adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya sepenuhnya. Dan bila ditambah pula dengan point berhati-hati tu sangat reflects on how para sahabat ni sangat ambil berat dengan state keimanan dan ketaqwaan diorang. Kalau boleh dia x nak keluar sikit pun dari framework and border line yang Allah dan Rasulullah saw dah tetapkan.

Tahap hati-hati yang sampai setiap masa pun mereka merasakan Allah sentiasa bersama dan memerhatikan setiap tindak tanduk mereka. Begitu hebat tarbiyyah yang Rasulullah saw dah terapkan dalam kehidupan mereka sampai boleh capai tahap keimanan dan ketaqwaan yang macam tu.

Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Allah masih mengizinkan kita untuk masih menjejakkan kaki dalam bulan Ramadhan pada tahun ini dan sudah pastinya Allah x nak kita sia-siakan peluang yang diberi.

Saya menyeru diri saya sendiri dan semua yang membaca untuk kita sama-sama kurangkan generation gap antara zaman kita dan zaman para sahabat Baginda. Hanya itu satu-satunya cara supaya kita pun boleh rasa yang taqwa tu mampu dimiliki. Bukan hak mutlak Rasulullah dan para sahabat baginda sahaja. So, besar jugaklah effort yang perlu kita curahkan untuk membentuk perasaan dan keyakinan yang sama. Keyakinan yang sampai tahap depan manusia ke, kita sorang2 ke, kita akan still beramal dengan amal2 terbaik sebab kita tahu Allah memerhati dan menilai kita pada setiap masa.

Teringat tazkirah ringkas di surau rumah saya semalam, ustaz tu cakap, “This Ramadhan, It’s all about our mindset of what we want to achieve.” Lebih kurang la ayat dia. Haha. Jom sama-sama set target apa yang kita nak capai, apa yang kita nak ubah, apa yang kita nak improve sepanjang Ramadhan ni. Dan sama-sama make sure semua yang kita buat dalam bulan ni cukup untuk menjadi bekalan untuk bulan-bulan yang akan datang. 

In shaa Allah, stay tuned for the upcoming entries sepanjang Ramadhan ni. Dengan harapan, Ramadhan kita kali ni akan lebih bermakna.


-αβ-

-Untuk tsabat hati dan jasad, kita perlu kerahkan semua keringat-

Saturday, August 12, 2017

The struggle is so real!


 “Kakak this, kakak that. Nanti abah and mak nak pi KL kakak bawak pi sini, pi sana.”

The perk of graduating. Life does not get easier. Kalau dulu, commitment yang paling besar selain dnt is only study. Orang takkan interfere sbb acknowledge yang kita tengah study. But now, the table completely flips. You are expected to give all the time to everything else. Even the people at work would say “You have nothing to do right on weekends, still single. So can you come?”. Families expect us to entertain them more. Which is okay. The only problem is when you are stuck in the middle between choosing. It’s not the matter of “neraca”, but to have that strong principle to deal with that situation. Saying “NO” to other people suddenly gets so hard as you are prone to having the same mentalities as theirs.

At the same time, all sorts of expectations and big responsibilities appear in DnT as well.  I would say multilevel new phase to adapt to. Allah tests us within our capabilities. Sometimes, it’s the matter of time and effort for us to find that amount of strength to face the struggles.

Lesson learnt, no one, I repeat NO ONE can ever understand the exact situation we’re in except our self and Allah. Other people can try to understand or simply judge, but never understand 100% of the situation. Thus. Never lose hope in Allah, never let go of Him as He is the only Provider of strength.

I keep telling myself, none of these are burdens or problems, instead they are blessings from Allah to increase my isti’ab and to strengthen my principles in the path chosen.

In the end, ni semua ujian yang Allah bagi untuk kita sendiri nilai level keimanan kita dekat mana dan sejauh mana kecintaan kita kepada dakwah dan tarbiyyah ni. The only expectation to fulfil is Allah’s. Khalas. When you see the big reason why you are still struggling, Allah will give us the strength. Once a fighter, always a fighter. Once a QS, always a QS. Change only for the better me.

“Life doesn’t get easier, you just get stronger” 


Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keredaan); dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya.(Al-Ankabut 29:69) 

Moga Allah teruskan membersihkan kita dalam jalan dakwah tarbiyyah ini, bukan dibersihkan darinya. Nauzubillahi min dzalik. 

p/s: Barakallahu fik to those giving endless motivations and supports despite them having struggles as well. Maybe this is why one of the keys to the winning of Islam is ukhwah. When you have this kind of Allah sent support, who can ever defeat you? 



-αβ-

~Di bumi Nottingham ini aku mengenal Allah~

Tuesday, May 16, 2017

Menganjak Dewasa



"Setiap anak Adam sering melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang melakukan dosa adalah orang yang bertaubat."(HR. Ibn Majah)


Currently playing in  my music player is the song "Taubat Seorang Hamba" with its chorus "Ku akui kelemahan diri, kuinsafi kekurangan ini, kukesali kejahilan ini,terimalah, terimalah, terimalah, taubatku ini..~~".

Exactly what I need at the moment. Kalau dalam timeline university life, kiranya I am at the end of it.. How time flies. There are ups and downs, people come and go. 

I've grown. And I know we've grown. Di bawah bayangan tarbiyyah Allah dan di dalam dekapan ukhwah, kami membesar. Namun, mungkin dalam proses pembesaran diri, kami lupa mengagungkan Yang Maha Besar, Tuhan Pemilik langit dan bumi dan semua di antaranya. 
"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kami tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang dikehendakiNya; dan Allah maha Kuasa atas segala sesuatu"(2:284)
Mungkin saja kecintaan kepada dunia masih menguasai hati hingga tiada tempat untuk Allah dan Rasul bertapak. Mungkin secara fizikalnya commitment itu mudah diberikan, tapi bagaimana dengan commitment hati?? Kita takkan mampu menipu diri sendiri. Hati yang suatu masa dahulu sangat berbunga-bunga apabila Allah memperkenalkannya dengan hakikat tarbiyyah dari rabbNya, kini bunganya telah semakin melayu. 

Mungkin saja kerana beban dakwah yang ditanggungnya semakin berat dan fikirannya, emosinya, rohnya dan jasadnya perlu diinfakkan untuk agama Allah ini. Mungkin saja kehendak-kehendak nafsu yang meliar sudah tidak mampu dipenuhi lagi.

Mungkin saja diri yang bergelar daie ini bukan saja bergelumang dengan jahiliyyah seorang daie, bahkan jahiliyyah orang-orang biasa, 

Mungkin saja mereka yang gugur melalui fasa yang sama sepertinya. Lalu apa bezanya? Apa yang masih melayakkan kita untuk dipilih Allah? Apa keimanan kita makin meninggi atau semakin menurun? Ataupun kita seperti telur dihujung tanduk yang bila-bila boleh jatuh kembali ke jurang neraka akibat dosa-dosa dan kemungkaran kita kepada Allah?
"Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri"(10:44)
Justeru kita yang memilih. Kita yang mencorakkan perjalanan hidup. Dan kita yang menentukan ending hidup yang mana kita inginkan dengan menjalani kehidupan yang penuh keimanan. 
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sesungguhnya kepadaNya-lah kamu akan dikumpulkan."(8:24)

Apa pun mujahadahnya, teruslah melangkah lalu berlari menuju Tuhan. Kerana dengan namaNya kita hidup, dan hanya dengan redhaNya kita 'hidup' di sana nanti.

Never give up on yourself. Because He didn't. 


-αβ-

~Di bumi Nottingham ini aku mengenal Allah~